Wahabi/Salafy/ Bicara Tauhid: Tidak Mentakwil?

Misalnya dalam catatan harian Ibnu Taimiyah yang dikasih lebelAlminhaju Assunnah dikatakan bahwa Allah swt yang maha suci itu diumpamakan seperti seorang manusia [Maha Suci Allah dengan Segala FirmanNYA] yang turun ke bumi disaat malam gelap dan naik ke singasana disaat fajar subuh menyingsing. Sebagaimana hadist yang katanya sahih yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah swt turun ke bumi setiap malam, dan kembali ke singasananya saat subuh.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa masalah tauhid dalam Islam masalah yang sangat urgen dan penting. Dan ini juga disepakati oleh semua agama samawi dari Nabi Adam as sampai Nabi terakhir Kanjeng Nabi, Muhammad saw. Karena urgen dan pentingya masalah ini, maka Allah swt mengirim utusannya untuk menyampaikan perkara yang satu ini. Saking pentingnya pula, ukuran keimanan seseorang bisa dilihat dari keyakinan dia dengan tuhannya. Dan ini berkaitan erat dengan yang namanya At-Tauhid.

Wahabi/Salafy/i, untuk selanjutnya kita sebut wahabi saja, punya dongeng tersendiri dalam memaknai tauhid. Katanya sekte wahabi memahami dan mengartikan makna tauhid ini datangnya bukan dari otak mereka sendiri tetapi berasal dari fatwa-fatwa ulama-ulama takfiri mereka. Dakwaan mereka, rujukan utama ulama-ulama itu dalam memahai perkara tauhid adalah dengan kembali ke Al-quran dan Sunah Nabi dengan tetap melihat makna Dhahir ayat tanpa takwil. Well…. Kalau yang ini semua ulama sepakat bahwa dalam masalah meng-Esa-kan Allah memang kita harus kembali merujuk ke Al-quran dan Sunah Nabi. Karena inilah satu-satunya jalan untuk men-Esa-kan Allah swt. Lalu…. dengan takwil..?.

So what..?? dalam masalah rujuk merujuk, kita Ahlu Sunah wal Jamaah sepakat dengan wahabi ini. Akan tetapi kalau kita sedikit berfikir dan menalar kembali makna Tauhid ala dongeng wahabi yang tertulis dalam buku-buku rujukan utama mereka, maka bisa dipastikan detak dan denyut nadi kita bertambah keras. Pemaknaan tauhid yang katanya bersumberkan pada Al-quran dan Sunah Nabi tanpa embel-embel pentakwilan justru merekalah jago takwil dan takwilan mereka menjauhkan makna tauhid itu sendiri. Dan kalau kita mau tegas lagi, Ibnu Taimiyah dan wahabiv cs inilah sebenarnya pemicu utama orang seperti Salman Rusdi untuk merusak hadist dan Al-quran dengan menulis novel ayat-ayat syetan. Karena memang apa yang dituliskan oleh salman rusdi sama persis dengan logika Ibnu Taimiyah cs. Loh…. Kok bisa…. Jelas bisa dunk….. mau bukti….?.

Saat menulis makalah ini di depan saya ada beberapa kitab rujukan dan ringkasan novel ayat-ayat syetan salman rusdi hasil pinjaman teman-teman satu kost. Kitab rujukan tulisan dedengkot jamaah takfiri ala wahabi memang saya pilah-pilah dan hanya memfokuskan pada satu titik permasalahan yaitu masalah tauhid. Misalnya dalam kitab Majmuatur Rasaili Alkubra, Alfatawa Alkubra, Alminhaju Assunnah oleh Ibnu Taimiyah dan Muhtasar Assyawaiqi Mursalah oleh Ibnu Qayyim serta bung Bin Baz dalam coretan hariannya yang berjudul Al-akidatus Shahihah wa Nawaqidhul Islam.

Misalnya dalam catatan harian Ibnu Taimiyah yang dikasih lebelAlminhaju Assunnah dikatakan bahwa Allah swt yang maha suci itu diumpamakan seperti seorang manusia [Maha Suci Allah dengan Segala FirmanNYA] yang turun ke bumi disaat malam gelap dan naik ke singasana disaat fajar subuh menyingsing. Sebagaimana hadist yang katanya sahih yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah swt turun ke bumi setiap malam, dan kembali ke singasananya saat subuh,.Karena hadist itu dianggap sahih maka, mengikutinya adalah wajib. Lagi-lagi Syeikh jenius ini pula melengkapi klaim kebenaran hadist diatas dengan menukil ayat Al-quran sebagaimana Allah swt berfirman: “Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy… (al-A’raaf: 54 dan Yunus: 3) lalu, Allah juga berfirman:”Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘Arsy …. (Ar-Ra’d: 2) dan: “Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…(al-Furqan: 59). Dan banyak lagi ayat-ayat suci Al-quran yang serupa. Maha Suci Allah dengan Segala Firmannya. Untuk jelasnya supaya merujuk kembali makalah saya sebelumnya Pandangan Ibnu Taimiyah Tentang Al-quran.

Pandangan Ibnu Taimiyah yang demikian itu persis seperti yang diceritakan oleh Ibnu Hajar Asqalani dan Ibnu Bathutoh. Ibnu Bathutoh berkata: “Di Damsyiq ada seorang ulama fiqih dari mazhab Hanbali, dia bernama Taqiuddin Ibnu Taimiyah. Setiap yang dia bicarakan selalu ilmiah, akan tetapi dia mempunyai masalah dalam penalarannya [akalnya]. Saat saya di Damsyiq, waktu itu hari Jum’at. Saya dan dia bersamaan masuk ke masjid. Di mimbar masjid Jami dia memberikan ceramah dan mauidhoh kepada masyarakat. Salah satu mauidhoh yang dia katakan adalah seperti ini: “Allah swt dari langit turun ke bumi seperti saya turun dari minbar [Ibnu Taimiyah turun dari mimbar]”. Inilah yang dia katakan sambil turun dari mimbar. Cek kitab Rehlatu Ibnu Bathutoh, Halaman 95, dan Kitab Addararu Alkaaminah, oleh Ibnu Hajar Asqalani, Juz 1, Halaman 154.

Mari kita diskusikan lagi kebenaran hadist yang dibawakan oleh Ibnu Taimiyah dalam menjustifikasi kebenaran Tauhid ala wahabiyah. Kalau hadist diatas itu sahih, fabiha ni’mah lil wahabiyyin tapi kalau hadist itu salah, fabiha niqmah wal adzab lil wahabiyyin.

Pertama, malam adalah tidak adanya cahaya matahari yang menyinari bumi karena cahaya itu terhalangi oleh bulan [mungkin yang lain bisa njelasin dan ngajarin mereka tentang perpuran galaksi sehingga terjadi siang dan malam]. Dan siang adalah dimana cahaya matahari tidak tertutupi oleh bulan. Jika dikatakan bahwa Allah swt turun ke bumi saat gelap [malam] maka pada saat yang sama ditempat adanya cahaya matahari [siang] Allah tidak ada.

Supaya lebih jelas, bisa diasumsikan begini, kalau di Indonesia itu gelap [malam] maka saat itu, Allah swt berada di kawasan Indonesia karena Allah swt turun dari singasanaNya, dan pada saat yang sama dibelahan dunia yang disinari cahaya misalnya Saudi Arabia [wahabi akan orgasme kalau kita sebut nama Saudi Arabiyah] maka ada kekosongan akan Allah swt, karena saat itu Allah sedang berada di tempat gelap [malam].

Dengan demikian maka hadist diatas adalah lemah alias bohong bin bikinan. Kalau percaya sama hadist ini maka dialah sang bahlul itu. Karena turunnya Allah swt kebumi tergantung adanya gelap [malam], dan selama itu pula singasana Allah swt di langit selamanya akan kosong dari Allh swt. Dan seandainya kita menerima bahwa hadist itu adalah benar, maka pertama-tama yang kita lakukan adalah mentakwil hadist tersebut dan mencari korelasi antara hadist lain dan ayat-ayat Al-quran lainnya, sebab banyak hadist dan ayat-ayat Al-quran yang mutasyabih, ”Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[184] sebagaimana yang dilakukan oleh Imam Malik bin Anas. Cek kitab Mir’atul Jinan lil Yafi’i hadist tahun 588, tarjamah oleh Shohibul Mizan. Namun, karena wahabiyun buta mata hantinya maka, takwil hadist dan ayat tidak bakalan diterimanya.

Padahal banyak dari ayat-ayat Al-quran yang Allah swt sendiri men-Tauhid-kan diriNYA dimana ruang dan tempat tidak berarti dihadapan Allah swt. Misalnya surat Al-baqarah ayat 115, Alah swt berfirman: “…maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah…..atau Allah berfirman :”….. dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya..” atau :”….. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada”…. “, dan banyak sekali ayat-ayat Al-quran yang perlu takwil untuk mentafsirkannya.

Yang aneh lagi adalah bahwa Ibnu Taimiyah dan kawan-kawan tidak menerima takwil ayat, karena semua ayat Al-quran dianggap sudah jelas. Tetapi kalau kita baca lagi tafsir Imam Sufyan ats-Tsauri berkenaan dengan ayat: “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa’ di atas ‘arsy. Dia Maha Mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya; apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan. (al-Hadiid: 4) “…..DIA BERSAMA KALIAN….” justru ditakwilkanya dengan “Dia bersama kalian yakni dengan ilmunya” lihat kitab Asma’ wa sifat, hal. 341 oleh Baihaqi kitab.

Lalu dikatakan pula oleh Ibnu Taimiyah: “Dhahir ayat ini menunjukkan bahwa makna ma’iyyah [BERSAMA] sesuai dengan konteksnya yakni memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui tentang kalian dll. [sof…. lihat..lagi-lagi Ibnu Taimiyah juga berusaha mentakwil dengan konteks lain] lihat kitab Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyah, juz V hal. 103. Dikatakan itu pula makna dhahir ayat yang sebenarnya dari ayat tersebut adalah demikian dan ini bukan takwil ayat dalih mereka.

Apakah ada hukum Al-quran dan Sunah yang menyatakan bahwa kebersamaan itu selalunya memperhatikan, menyaksikan, menjaga, dan mengetahui?. Apakah ada..?. Maka sejatinya ibnu taimiyah sebenarnya juga mentakwil makna ayat tanpa dia sadari karena dia ingin dianggap beda dengan Ahlu Sunah wal Jamaah.

Bukti takwil makna kebersamaan dengan ilmuNYA adalah ayat Al-quran: “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (al-Baqarah: 186)

Makna “Kedekatan” juga ditakwil dengan makna para malaikat yang diperintahkan-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Qaaf: 16). Disini Syaikh Utsaimin mentakwilkan makna “DEKAT” pada kalimat di atas adalah dengan para malaikat yang diperintahkan-Nya. Lihat kitab Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin

Lalu takwil makna “DEKAT” dengan kematian. Demikian pula dalam firman-Nya: “Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat. (al-Waqiaah:85)”. Makna ‘kedekatan’ dalam ayat ini adalah berkaitan dengan kematian kilahnya. Lagi-lagi dia berusaha mentakwil lagi, Karena itu dalam makna dekat dalam ayat diatas adalah adalah para malaikat yang diperintahkan-Nya. Karena ayat sebelumnya membahas tentang kematian, yang tentunya Allah memerintahkan kepada malaikat pencabut nyawa. Jadi, yang dimaksud ‘dekat’ di sini adalah malaikat yang diperintahkan-Nya. Lihat kitab Qawa’idul Mutsla, Syaikh Utsaimin, hal. 120. Apakah ini bukan Takwil..???

Dan banyak lagi takwil ayat yang dilakukan oleh wahabiyah yang katanya barangsiapa mentakwil Al-quran adalah kafir, ternyata mereka beramai-ramai menjerumuskan dirinya kelubang kekufuran yang diciptakan sendiri.

Sumber:http://wahabisme.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: