Al-Qiyadah Al-Islamiyah sesat?

Pertama kali sebelum membahas tentang kesesatan, ada baiknya kita renungkan bersama pertanyaan-pertanyaan berikut:
1. Mengapa di tanah Indonesia subur dengan keanehan-keanehan, seperti munculnya orang yang mengaku nabi, mengaku malaikat, mengaku imam Mahdi, dan lainnya?
2. Apakah pengakuan itu dilatar-belakangi pemahaman terhadap Islam? Kalau itu, maka para muballigh, ustadz dan ulama andil dalam keanehan “kesesatan”
3. Apakah karena karena dilatar-belakangi kesulitan kehidupan ekonomi? Jika ya, maka pemimpin dan ulama andil sebagai penyebab, dan ini akan dimintai pertanggungan-jawab oleh Allah swt sebagai pemimpin dan ulama.
4. Atau karena kekecewaan dan lainnya sehingga mereka membentuk komunitas tersendiri?
5. Atau dilatar-belakangi kerinduan terhadap pemimpin yang adil dan ulama yang bersih dan peduli, dan mereka belum temukan itu di Indonesia?

Masalah Sesat
Di dalam Al-Qur’an ada katagorinya, antara lain yang disesatkan oleh Al-Qur’an:
1. Orang-orang kafir (surat Al-Fatihah; Al-Mu’min: 74)
2. Orang-orang yang zalim (Ibrahim: 27)
3. Orang-orang yang zalim yakni keturunan nabi Ibrahim yang tidak memenuhi syarat meneruskan kepemimpinan Nabi Ibrahim (as), lihat tafsir tentang surat Al-Baqarah: 124.
4. Orang-orang yang hidup mewah, berlebihan “Musrif”, dan peragu (Ibrahim: 34)
5. Para pedosa (An-Nisa’: 64)
6. Dan masih banyak lagi katagori orang-orang yang dinyatakan sesat oleh Al-Qur’an.

Jika demikian, pada bagian yang mana kesesatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah? Bukankah pada ujungnya, penyesatan itu karena perbedaan pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadis. Kalau perbedaan pemahaman, betapa banyak orang-orang sesat di dunia ini, terutama di Indonesia. Kalau dikatakan tingkat perbedaannya. Bukankah dari dahulu, baik masalah akidah, syariat, akhlak, sudah terjadi perbedaan bahkan di kalangan ulama itu sendiri. Kalau persoalannya perbedaan itu membahayakan, maka kita telah mempersoalkan makna hadis “Ikhtilafu ummati rahmah”? Sehingga muncullah pertanyaan:
1. Siapakah yang punya otoritas memvonis bahwa perbedaan itu berbahaya? Pemerintah atau ulama?
2. Sudahkah pemerintah dan ulama meneliti latar belakang perbedaan itu? Jangan-jangan ada dalang di belakang semua itu, dari dalam atau luar negeri, yang dengan sengaja ingin mengacau kehidupan ummat Islam.
3. Sudahkan pemerintah dan ulama mengajak dialog dari hati ke hati? Sehingga terbuka yang sebenarnya.

Maksud saya, janganlah hanya karena berbeda pendapat, kita buru-buru menyesatkan dan mengkafirkan. Jika demikian, akan banyak sekali orang-orang sesat dan orang kafir di Indonesia. Semestinya kita belajar dari sejarah ummat Islam terdahulu. Bukankah dahulu hanya karena beda pendapat dan dilatarbelangi politik, ulama fiqih menyesatkan dan mengkafirkan ulama sufi, yang berakhir pembuhan yang teragis seperti Al-Hallaj, dan yang samar-samar seperti Syeikh Siti Jennar. Selain itu sebagian kelompok ummat Islam menyesat dan mengkafirkan kelompok yang lain, dengan menggunakan kekuatan politik, dan ini sudah masyhur di Indonesia. Apakah hal ini akan terulang di zaman global dan era informasi ini. Sangatlah naif kita ummat Islam, kalau hanya beda pendapat dan pemahaman kemudian menyesatkan dan mengkafirkan.

Sebenarnya, kita uji dulu dua pemahaman yang berdesa itu di laboratorium. Tapi kita belum punya laboratorium pengujian yang valid. Apakah MUI yang akan menjadi lembaga pengujian? Saya masih ragu kevalitannya. Karena mungkin masih banyak ulama yang lebih alim yang masih berada di luar MUI. Atau perlu ada pemgujian khusus tentang otoritas keilmuan ulama sebelum memasuki MUI? Dan Siapakah yang punya otoritas mengujinya? Jangan-jangan jika ulama, kiyai, ustadz dan tokoh yang ada di MUI itu diuji secara benar-benar, mereka belum juga
memenuhi syarat keilmuan dan moral sebagai ulama yang sebenarnya sebagai pewaris Nabi saw?

Sekarang ummat ini sudah merindukan ulama yang punya otoritas dalam keilmuan dan moral, sebagai tempat mengadukan segala persoalan keummatan. Dari dulu hingga sekarang tidak ada perubahan lembaga keulamaan kita. Bisa jadi ummat ini kecewa terhadap ulama yang tidak peduli terhadap kehidupan ummatnya. Sehingga muncullah sikap yang aneh-aneh dari sebagian ummat yang tidak tahan melihat sikap sebagian ulama.

Kembali pada masalah “Kesesatan”. Kalau Al-Qur’an menyatakan sesat para pedoasa, bukankah kita semua adalah orang-orang yang sesat? Sesat lalu bertaubat, sesat lagi lalu bertaubat. Bukankah ini kehidupan kita sehari-hari? Tidak pernah kapok dengan dosa dan kesesatan. Bahkan ada yang merasakan kenikmatan dengan kesesatan dan dosa. Kalau ini yang di terjadi, maka beda tipis dengan “maling teriak maling”, yakni sesat teriak sesat. Bedanya hanya tingkatan, kwalitas dan kwantitasnya. Bahkan bisa terjadi sebaliknya, maling besar meriakan maling kecil atau maling kecil meriakkan maling besar, koruptor besar meneriakkan koruptor kecil, dan sebaliknya. Demikian juga, sesat besar meneriakkan sesat kecil, sesat kecil meneriakkan sesat besar. Pada intinya sama-sama maling, dan sama-sama sesat. Sesama sopir jangan saling mendahului agar tidak terjadi kecelakaan. Saya teringat humor sembayan orang orang Madura yaitu “Tak tentu”. Misalnya, dalam hal makan, bisa mubah, bisa sunnah, bisa wajib, dan bisa haram. “Tak Tentu” artinya relatif. maaf, saya sendiri orang Madura.

Blog ini dirintis dan dipublikasikan untuk membuka wawasan kita tentang persoalan-persoalan Keislaman dan kemanusiaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: